Tempe

January 26th, 2008 by nikenlaras

Banyak headline koran bilang bahwa negara kita di ambang krisis pangan. Beras, terigu, telur, minyak tanah; perlahan tapi pasti, semua naik harga. Juga kedelai dan tempe.

Pak Kumis, tukang sayur di kompleks saya complaint, “Susah Bu nyari tempe, barangnya ngga ada. Beli ayam aja Bu, ini pejantan tinggal satu, atau ini.. ada udang seger-seger” Seolah ayam adalah substitusi tempe, akhirnya saya pun setuju untuk membeli ayam pejantan itu sambil berpesan: “Pak Kumis, kalau ada tempe bungkus yang bentuknya segitiga gendut2, saya mau pesan 20 biji ya.” “Iya Bu, pokoknya kalo di pasar ada, nanti saya ambil buat Ibu.”

Besok paginya di kantor…. Teman-teman komentar soal nasi uduk langganan mereka yang sekarang sudah tidak dilengkapi dengan sambal goreng tempe. “Wah rasanya beda kalo ngga ada tempenya.” “Iya, kurang rasa pedes-legitnya.” kata teman saya yang lain.

Siang harinya, saya makan nasi timbel. Biasanya di tiap porsi ada tempe goreng yang ukurannya cukup besar, selain lauk utama berupa ikan/ ayam. Tapi siang itu cuma ada tempe ukuran mini yang ada di piring timbel. “Lha, kok tempenya kecil banget, Bu?” “Iya, barangnya lagi susah. Maap aja ya Mbak..”

Di rumah saya, tempe bukan makanan utama, tapi dia sering ada. Dia adalah pelengkap dari menu utama. Misalnya, menu utama adalah sayur lodeh+ikan asin, maka tambahannya adalah tempe goreng+sambal terasi. Jika menu utamanya cap cay +ayam balado, maka tambahannya adalah sambal goreng tempe+krupuk udang. Jika sore-sore ngga ada cemilan, ya gampang..tinggal bikin tempe mendoan+sambal kecap. Jadi, tempe di rumah saya memang bukan menu utama. Tapi dia selalu ada. Alhasil ketika tempe menjadi langka, saya harus cari referensi lauk lain yang se-fleksibel tempe: ya fleksibel masaknya, fleksibel tempatnya (dimana-mana tersedia), dan fleksibel harganya. Ya… tapi mana ada bahan makanan yang begitu fleksibel selain tempe itu sendiri? Karena tempe sudah menjadi “budaya”, ketika dia tidak ada, semua orang di rumah-pun akan merasa “ada yang kurang”. Wajar dong, saya (dan berjuta-juta ibu lainnya) yang bertindak sebagai PIC (Person In Charge) dalam pengelolaan menu keluarga, protes dan bingung ketika tempe “hilang” atau “langka”

Alhamdulillahnya, saya masih hidup di pulau Jawa. Alhamdulillahnya lagi.. masih sanggup membeli lauk lain untuk melengkapi komposisi protein dalam menu keluarga.

Sepupu saya yang tinggal di Gorontalo bilang, ketika krisis kedelai melanda akhir2 ini, dia+keluarga belum pernah makan tempe lagi. Di Gorontalo, tempe bukan hanya langka, tapi “hilang”. Pengumpul botol air mineral yang biasa mangkal di jembatan busway dekat kantor saya juga bilang, bahwa anaknya sekarang hanya makan pakai garam dan krupuk. Karena telur sudah mahal, dan tempe sudah tidak terbeli.

Ya, saat inilah saya bisa menilai bahwa tempe bukan hanya pelengkap nasi. Dengan fleksibilitasnya, tempe sudah menjadi bagian dari budaya kita. Mudah-mudahan krisis ini tidak lama. Mudah-mudahan juga Pak Kumis tidak lupa sama janjinya untuk mencarikan tempe bungkus segitiga yang gendut2 buat keluarga saya.

Ketika Tuhan Berkehendak

March 1st, 2007 by nikenlaras

Minggu lalu Om saya yang tinggal di Semarang baru saja meninggal dunia. Beliau adalah salah satu saksi yang duduk di meja pernikahan saya. Profesinya perwira tinggi polisi (baru saja pensiun). Sekarang mulai merambah dunia bisnis. Wajahnya super galak, tapi hatinya super lembut. Anak-anaknya bilang, om saya ini badan Rambo- hati Rinto (Rinto Harahap maksudnya, si pencipta lagu melankolis itu).

Tanggal 22/2 jam 02 malam (waktu jepang), suami membangunkan saya. Perlahan tapi jelas: "Sabar ya Bunda, jangan kaget, mama baru aja nelpon, katanya Om Roto udah nggak ada"
Saya limbung sebentar, selain karena belum sadar sepenuhnya - juga karena ngga percaya. Maksudnya Om Roto yang di Semarang? Kenapa, kecelakaan kah? Beliau kan rajin olahraga, rajin periksa kesehatan, kecil kemungkinan kena penyakit jantung/stroke yang sekali serangan langsung KO?
Sepertinya saya sempat bengong, ngga tau mau berbuat apa, sampai saya diingatkan: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun….
Baru saya menangis. Inilah momen kehilangan (orang dekat) yang pertama setelah saya disini. Saya ingat waktu mau berangkat, saya pesan kepada papa untuk selalu jaga kesehatan, mengingat papa hobi makan segala jenis makanan, termasuk yang mengandung kolesterol tinggi. "Pokoknya papa jangan sampe sakit. Kalo sakit nanti Niken disana ngga tenang. Pokoknya papa ngga boleh makan kambing, jadi vegetarian dulu."
Papa saya cuma tertawa. Seminggu kemudian ada laporan dari adik saya kalo papa baru saja makan Sate Maranggi (huuuhhh..sadar badan dong Pa…)

Ternyata Tuhan mengambil Om saya jauh lebih cepat dari perkiraan semua orang. Seorang perwira polisi yang sehat dan sadar kesehatan, meninggal karena serangan jantung ketika menyetir mobil.
Tuhan-ku betapa Engkau berkuasa atas segala sesuatu. Manusia boleh berusaha, tapi Engkau yang menentukan. Adik eyang saya (yang perokok berat) baru meninggal beberapa tahun yang lalu ketika usianya sudah hampir 85 tahun, sedangkan Om saya ini (yang sadar kesehatan) harus meninggal di usia 50-an.

Hari ini tepat tujuh hari beliau meninggal. Ingin sekali saya ke Semarang dan bertemu dengan Tante dan adik-adik sepupu saya. Mereka bertiga. Yang sulung, laki-laki, sedangkan yang tengah dan yang bungsu perempuan.
Rasanya sedih ketika membayangkan saat ijab kabul pernikahan adik-adik saya yang perempuan ini. Yang menikahkan nanti tentu bukan Papanya…yang menikahkan mungkin kakaknya atau Pakde/Om-nya…
Belum lagi ketika saya membayangkan mereka wisuda, lamaran, punya anak…. ahhh…masih banyak momen kehidupan yang akan jauh lebih indah jika beliau masih ada…
Tapi Tuhan punya kuasa atas segalanya, juga atas umur manusia. Sabar ya adik-adikku sayang…doaku selalu untuk kalian..

Be treated as a human being

February 9th, 2007 by nikenlaras

Salah satu website yang wajib dikunjungi setiap hari adalah liputan6.com dan kompas.com. Setidaknya sehari sekali, saya mengakses kedua website tersebut untuk mendapatkan berita tentang apa yang terjadi di indonesia saat ini. Minggu ini, saya  juga mengikuti berita musibah banjir yang konon katanya merupakan banjir terdahsyat selama 6 tahun terakhir.
Prihatin sekali…
Sebagai lulusan planologi, saya prihatin karena musibah ini adalah buah kebodohan yang dipupuk oleh bangsa kita karena tidak cerdas memanfaatkan ruang.
Sebagai rakyat indonesia, saya prihatin karena ditengah kemapanan yang saya rasakan di negeri orang, nun jauh disana saudara saya mungkin sedang kekurangan sandang-pangan.
Sebagai ibu, saya prihatin karena membayangkan nasib berjuta anak kehilangan kesempatan belajar, bermain, bahkan mungkin kehilangan orang-orang terdekatnya.
Sebagai manusia, saya prihatin karena rakyat indonesia tidak diperlakukan sebagai manusia..

Setiap tahun musibah ini berulang-ulang terjadi, tapi ijin pembangunan rumah, reklamasi pantai, pembangunan daerah hijau, penutupan air tanah, terus dilakukan. Pemerintah sibuk meningkatkan PAD, ijin terus dikeluarkan. Uang korupsi terus dimakan, digiling dalam perut istri dan anaknya, mengalir dalam darah mereka. Dari generasi ke generasi, dari era Suharto sampai SBY, semua menutup mata. Mereka tentu tahu apa akibatnya bila Bopuncur dibangun. Mereka tentu tahu apa akibatnya bila pantai terus direklamasi. Mereka tentu tahu bila permukaan Jakarta sudah turun 0.8 cm setiap tahun. Mereka tentu tahu bahwa cepat atau lambat musibah banjir akan bertambah dahsyat bila daerah resapan tidak dilindungi.
Lalu kenapa masih dilakukan? Lalu kenapa menyalahkan efek global warming? Well, the globe is too large to be managed, in fact we can do something as a nation.

We can start thinking others while we plan to do something. Saat mendatangani ijin, coba pikirkan apa akibatnya setahun,lima tahun, sepuluh tahun ke depan. Saat merubah warna hijau dalam dokumen rencana kota menjadi warna merah dan ungu, coba pikirkan apa akibatnya terhadap warna merah di dokumen rencana kota yang lain. Coba bayangkan anak-anak, orang jompo yang berenang menyelamatkan diri dan hartanya. Setiap tahun mereka mengalami hal yang sama. Setiap tahun, setiap musim hujan. Sehingga mereka bisa tertawa dan menganggap semua yang terjadi adalah hal yang biasa. Biasa? Tidak menurut saya. It’s pathetic.
They have to be treated as human being. Mereka ngga salah apa-apa, tapi akibat yang diderita sangat besar, bahkan luar biasa besar jika dialami setiap tahun.

Bukan hanya di jakarta; di jambi, lampung, kalimantan, sulawesi, nusa tenggara, musibah ini sudah meluluhlantakkan indonesia. Bahkan hampir setiap orang yang saya temui disini selalu bertanya: "How’s your family, does the flood threat them?"
Then what can i say? "No, my family is fine, but my country is drowning.." kelakar saya..
Ah tidak pantas rasanya jawaban seperti itu…Tapi sesungguhnya dalam hati saya tidak berkelakar…our country may be drown if we do nothing about the system..

My Worst Week, Ever….

February 6th, 2007 by nikenlaras

Sepanjang hidup saya, baru minggu lalu saya merasakan hidup yang benar-benar hampa. Naufal masuk rumah sakit. Pertama kalinya dia diopname ya disini, di Takatsu-Mizonokuchi hospital, bukan di tanah airnya Indonesia. Perkaranya karena sesak nafas dan batuk.

Hari sabtu lalu, kami periksakan Naufal ke dokter karena bangun tidur dia mengalami sesak nafas. Bicaranya terbatuk-batuk dan mukanya pucat. Udara di Jepang memang dingin banget, walaupun sebenarnya dibanding Januari, bulan ini ’sedikit’ hangat. Suhu minggu lalu kisarannya sekitar 9-11 derajat celcius. Untuk Nuafal yang punya alergi dingin, memang kelihatannya berat jika harus adaptasi dengan cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kita bawa ke dokter dekat rumah yang kebetulan bisa bahasa inggris.
Di dr., tangan Naufal diinstall dengan alat kecil pengukur kadar penyerapan oksigen. Hasilnya, saturasi oksigen dalam darahnya hanya 91%, dari yang seharusnya 99%. Dr.nya langsung merekomendasikan untuk opname, takutnya Naufal mengalami kondisi yang lebih buruk kalau ngga ditolong dengan tabung oksigen.
Reaksi saya dan suami? Bingung, karena kita tahu di Jepang, pasien ngga boleh ditunggu walaupun masih bayi/balita. Jam besuknya hanya jam 15-20.00, setelah itu pulang, ngga boleh nginep ataupun beredar di sekitar ruangan.
Lalu kalau Naufal opname, gimana dia bisa berkomunikasi dengan suster/dokternya? They’ve different languange. Gimana kalo dia minta minum, minta pipis, lapar…
Ya Allah, saya hanya bisa pasrah. Lahawla walaquwwata…baru kali itu saya merasakan kekalutan yang luar biasa sepanjang hidup saya..

Naufal masuk ruang anak dengan tangan kiri diinfus dan tangan kanan pengukur detak jantung. Ya Allah, saya hanya bisa nangis mendengar dia memanggil-manggil ayah-bundanya. Saya belum boleh masuk karena waktu itu masih jam 12 siang.
Tiba waktu besuk, kami langsung lari ke dalam ruangan. Naufal masih nangis, saya peluk sambil coba menenangkannya. Sampai tiba jam 20, ternyata boleh menunggu sampai anaknya tidur. ALhamdulillah…saya bilang ke Naufal,
"Kalau nanti Naufal bangun ayah-bunda ngga ada, jangan nangis..nanti kalau matahari sudah tinggi, ayah-bunda datang lagi.."
Naufal nangis lagi, dia sudah cukup paham artinya diopname. Kekalutan saya bertambah ketika harus meninggalkan dia di rumah sakit pada malam itu. Malam pertama bagi saya dan Naufal tidur terpisah.

070204_1734_0001

070204_1755_0001

070204_1732_0001

Malam itu kami ngga bisa tidur. Sebentar-sebentar lihat jam, masih jam 1, jam 2, lambat sekali  berlalunya. Sampai akhirnya hari minggu datang dan kami berangkat lagi ke RS. Alhamdulillah Naufal membaik. Alat instalasi detak jantung sudah dilepas, hanya tinggal infus. Saturasi oksigennya sudah 98%. Alhamdulillah..Mukanya sudah tidak pucat dan sudah bisa ngobrol dengan ceria. Dia minta dibawakan kereta Thomas.
Senin, he’s getting better. Kata dokter, besoknya dia boleh pulang..

Alhamdulillah, selasa kami sudah berkumpul kembali, tapi trauma Naufal kayaknya belum pulih. Setiap saya ke kamar mandi, atau beranjak dari sampingnya, dia pasti mencari saya. Dia bilang kalau makanan di RS ngga enak. Kalau pipis sama ee’ di pampers, padahal Naufal sebel banget kalo dipakein pampers. Fisiknya belum pulih, bahkan sekarang mentalnya pun masih terpukul.
Kalau sudah begini, rasanya ingin cepat2 kembali ke tanah air. Di RS tanah air, kita tentu bisa urus anak kita 24 jam.

Kemarin,
Naufal sudah cukup terpukul dengan harus masuk RS, tangan diinfus, obat, dsb, ditambah lagi harus berpisah dengan orangtuanya, ditambah lagi tidak bisa berkomunikasi dengan susternya.

Thanks God, it’s over….

Best Feeling

January 16th, 2007 by nikenlaras

It really feels like home when have nothing-important thing
to do, just reading a new novel and listening to a slow music in radio.
Just like now, listening to INDORADIO, the first Indonesia Internet radio,
Soft music’s whispering smoothly…
Rita Effendi, Vina Panduwinata, Mocca…they’re singing as
like they’re in front of me…

Naufal is already asleep…
My hubby hasn’t finished his job in the office yet….

070116_2120_01
Just me, a cup of my hot-ginger tea, my favorite coffee, and a book named “Japan, As
It Is”….

My best feeling….=)

Gila Makanan Indonesia

January 10th, 2007 by nikenlaras

Salah satu hal yang bikin kangen tanah air adalah makanannya. Ikan asin, tempe goreng, lalapan, gudeg, pokoknya semua jenis makanan Indonesia, selalu bikin ngiler, terutama para pelajar perantau yang sudah bertahun-tahun disini.

Minggu lalu, suami saya berinisiatif untuk mengundang teman-temannya sesama penerima beasiswa JICA ke rumah. Ada sekitar 20 orang yang diundang, termasuk yang single maupun yang berkeluarga. Kapasitas segitu udah maksimal buat apato kecil kami yang ukurannya cuma sekitar 42 m2. Sibuk lah saya selaku tuan rumah. Masak gulai daging, ayam goreng, sambel terasi, plus lalapan. Semua bahan dibeli di Shinokubo-di toko yang jual bahan2 Indonesia- kecuali terasi saya bawa khusus  0,5 kg dari Indonesia. Pada H-1, saya email-emailan sama Dr.Yanti, teman suami saya, undangan juga. Katanya, mereka yang single ingin ikut masak. Alasannya karena di tempat tinggal mereka ngga ada dapur, jadi mereka kangen masak rame2. Senangnya lagi, Bu Yanti dkk mau belanja bahan tambahan di Okubo (1,5 jam dari rumah saya), juga di toko khusus Indonesia. Menu tambahannya adalah gado-gado, tempe goreng, dan ikan asin….hwaaaa..senang sekali. Saya girang bukan kepalang mendengar ada kata "tempe dan ikan asin". Dua makanan itu memang langka disini. Ada yang jual, cuma lokasinya jauh, belum lagi harganya mahal.
"Bu Yanti…bawa yang banyak ya….biar nanti kalo sisa bisa dibekel pulang." begitu kata saya.

Jam 10.30 Bu Yanti dkk dan Pak Budi sekeluarga datang. Ternyata Bu Budi bawa cocktail. Bagus deh..bisa melengkapi juice yang udah saya sediakan untuk tetamu.
Dapur saya langsung heboh, masak ini itu sambil ngobrol ngalor ngidul. Semua orang kayaknya sama dengan saya, kangen tempe dan ikan asin. Semua komentarnya sama, "Wah ada tempe..atau Wah ikan asinnya baunya enak sekali"…Img_2768

Semua udah pada ngiler. Sampai akhirnya masakan siap jam 12.00. Langsung serbuuu…!! Yang pertama habis tentu saja mendoan tempe, trus lalapan, sambal terasi, ikan asin, ayam goreng,..trus gado-gado, gule…wah amblas semua. Hampir ngga ada yang bisa dibawa pulang oleh para bujang-bujang. Padahal masaknya buanyaaakk banget. Tapi tetep aja habis di tempat.

Img_2724

 

Pesta bubar setelah maghrib. Saya tentu saja happy karena ngga mesti mikirin sisa makanan. Gimana mau sisa, lha wong untuk makan malem sendiri aja ngga komanan (kebagian, red) kok =)

Img_2746

                   

It’s Soba Time :p

December 20th, 2006 by nikenlaras

Kalau Pak Bondan Winarno-nya Trans TV atau Bu Siska
Soetomo-nya Indosiar ke Jepang, pasti mereka bakal betah stay tune ngeliatin
siaran TV lokal. Gimana nggak, disini rata-rata hampir semua TV menyiarkan
acara masak-memasak dan wisata kuliner, mulai dari pagi sampai malam.
Frekuensinya sebanding dengan siaran infotaintment di Indonesia. Masakannya pun
simple, cuma cemplang-cemplung ikan atau sayur..atau dipanggang dengan bumbu
seadanya. Beda dengan masakan Indonesia yang harus diuleg, dan butuh seribu
macam bumbu agar cita rasanya terasa.

Ceritanya di suatu siang, ada satu acara mirip Wisata
Kulinernya Pak Bondan. Host-nya dua orang perempuan yang – seperti orang Jepang
pada umumnya – badannya kurus, tapi makannya luar biasa banyak. Topik siang itu
adalah Soba Mie.

Soba Mie adalah salah satu makanan/ jajanan yang oleh
perkumpulan pelajar Islam disini direkomendasikan halalnya. Mie jenis lain yang
pada umumnya ‘aman’ adalah udon, sedangkan ramen, sama sekali
tidak dijamin kehalalannya. Karena itu maka saya tertarik untuk melihat acara
itu lebih lanjut.

Disini, soba mie adalah makanan yang sangat populer.
Restorannya tersebar dimana-mana, mulai di pinggir jalan kecil, jalan besar,
sampai stasiun. Ceritanya, dua orang wanita tersebut mengunjungi sebuah
restoran soba di pinggir jalan kecil di Tokyo. Berhubung saya tidak bisa bahasa
Jepang, jadi hanya menebak2 saja dialog yang sedang mereka lakukan. Kayaknya
sih waktu itu salah satu wanita merasa sangat kedinginan dan ingin makan yang
hangat2. Jadilah mereka pergi ke restoran soba.

Soba mie disajikan dengan kuah di sebuah mangkuk super
besar, ada sedikit sayuran hijau dan tempura besar di atasnya. Wanita satunya
meminta telur mentah (yaaaikkksssL) untuk ditambahkan di kuah sobanya. Untuk minumnya,
restoran itu menyajikan air putih dingin gratis. Finally mereka makan dengan
enaknya…

Img_2028_1
Giliran saya yang masih penasaran dengan Soba mie itu.
Untungnya rasa penasaran saya tidak berlangsung lama. Waktu saya belanja
mingguan di Mizonokuchi, tiga stasiun dari rumah, saya menemukan restoran soba
di stasiun. Wah kebetulan sepi lagi… akhirnya saya masuk. Tapi ups, ternyata
restoran ini memakai system otomatis untuk ordering. Hmm….bagus juga,
jadi saya tidak perlu berdialog dengan pelayan retorannya. Saya mengamati
tulisan hiragana di masing-masing pilihan soba di papan depan restoran. Ada
yang pakai tempura udang, pakai cumi, pakai sayuran saja, pakai jagung, dan
macam-macam. Harganya juga bervariasi, mulai dari 250-500 yen. Akhirnya saya
menjatuhkan pilihan pada salah satu jenis soba dengan tempura udang. Setelah
menghapalkan bentuk hiragana untuk jenis soba tersebut, akhirnya saya masuk ke
restoran dan memasukkan koin sebanyak 330 yen ke kotak pesanan.
Srreeettt….order saya tertulis di selembar kertas order kecil.

Saya menyerahkan kertas tersebut kepada pelayan penerima
order dan duduk di kursi tengah. Tidak sampai lima menit, pesanan saya datang.
Hmm….rasanya tidak sabar menikmati mie soba di tengah cuaca yang super dingin
ini. Wah tapi porsinya luar biasa besar, sudah dapat dipastikan tidak akan
habis untuk saya sendirian. Untung ada Naufal yang sedikit mau membantu saya
menghabiskannya.

Setelah selesai, saya berniat meminta air hangat. Tapi
kelihatannya tidak ada. Akhirnya saya memesan ocha (teh hijau) sebagai
minuman hangatnya.

Img_2029_1
Wah enak sekali. Recommended buat lidah ndeso seperti
saya. Selama ini saya jarang merasakan jajanan Jepang yang enak, tapi untuk
soba mie, saya bisa menikmatinya. Yummy!!

Eskalator, Anjing Kencing, dan Feeling Homesick

December 5th, 2006 by nikenlaras

Memasuki minggu kedua di Jepang, saya mulai sedikit
‘tenang’. Awalnya, saya sempat merasa frustasi karena merasa tidak mampu
berkomunikasi dengan orang. Disini, jarang sekali penduduk lokal yang bisa
berbahasa Inggris. Bahkan petugas imigrasi yang saya pikir bakal sangar
menginterogasi saya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar banyaknya bumbu basah
yang saya bawa, tidak memberikan pertanyaan yang ‘berbobot’ dan membutuhkan
argumentasi sengit. Petugas itu (dengan bahasa inggris yang terbata-bata) hanya
menanyakan tujuan saya ke Jepang. Koper di bagasi yang berisi bawang merah,
laos, salam, dkk dan tas isi susu Naufal yang disimpan di kabin juga luput dari
pengawasan petugas. Alhamdulillah, at least  semua barang bawaan itu ngga mubazir dan bisa dimanfaatkan.

Di minggu kedua ini saya mulai sedikit hafal ‘medan’,
termasuk beberapa kebiasaan lokal. Saya mulai terbiasa berjalan kaki
berkilo-kilometer dan naik turun kereta api. Seperti di negara maju lainnya,
kereta api menjadi moda utama bagi angkutan massal. Kebetulan apato yang kami
tempati berada sekitar 1,5 km dari stasiun Saginuma. Jadi ya lumayan, untuk
bolak-balik saja harus mampu berjalan 3 km. Cuaca dingin dengan kisaran 8-12
derajat awalnya sempat jadi kendala, tapi sekarang sudah mulai terbiasa.

Selama dua minggu saya disini, ada beberapa kebiasaan unik
yang saya pelajari.

Pelajaran pertama adalah tentang eskalator (tangga
berjalan). Waktu itu saya sedang berada di Tokyu Dept.Store, letaknya di dekat stasiun
Saginuma. Saya melihat-lihat harga barang-barang pokok di lantai satu (maklum ibu rumah tangga) dan suami saya
mengantar Naufal jalan2 di lantai dua. Setelah selesai, saya naik ke lantai dua
menggunakan eskalator. Sebagaimana di Indonesia, satu anak tangga eskalator
bisa memuat dua orang dewasa. Saya mengambil jalur kanan. Baru beberapa saat,
saya mendengar dari belakang seorang wanita berkata: “Semimasen…”

Dengan membalikkan muka, saya bertanya-tanya maksudnya apa
ya..

Dia terus berada di belakang saya dengan muka seolah-olah
berkata “Minggir dong Mbak..”

Akhirnya saya mengikuti insting dan bergeser ke sebelah
kiri. Ternyata benar, dia terus menaiki eskalator dan menyusul saya.

Setiba di lantai dua, saya bertanya pada suami saya: “Mas, semimasen artinya apa tho?”

Artinya ‘permisi’
katanya.

Saya menceritakan
kejadian di eskalator tadi dan bertanya-tanya kenapa wanita tadi ngga nyusul
dari kiri saja, kan sebelah kiri saya kosong.. Jadi dia ngga perlu susah-susah
bilang semimasen..

Ternyata, naik eskalator
di Jepang ada aturannya.

Sisi kanan dipakai
untuk mendahului. Jika kita naik eskalator hanya diam dan mengikuti berjalannya
tangga, maka kita harus berdiri di sebelah kiri. Tapi kalau kita terburu-buru
maka kita harus berada di sisi kanan dan terus berjalan, tidak diam.

Setelah itu saya
mulai mengamati orang2 di eskalator. Ternyata benar, di stasiun semua orang
yang berdiri diam di eskalator mengambil sisi kiri dan yang terburu-buru
mengambil sisi kanan sambil terus berjalan.

Very organized. Hebatnya, semua orang termasuk anak kecil,
sudah paham dan mengikuti aturan itu.

Pelajaran kedua saya dapatkan sepulang dari Tokyu
Dept.Store. Kami berjalan mengelilingi blok apato. Saya ditunjukkan beberapa
jalan alternatif yang berujung pada apato kami dan taman kecil untuk Naufal
bermain. Di perjalanan saya mengamati bahwa hampir di depan setiap rumah ada
tiga botol aqua jumbo yang terisi penuh, diletakkan di dekat pot bunga/
tumbuhan yang tumbuh di depan rumah tersebut.

Kenapa setiap rumah
melakukan hal yang sama..dan buat apa botol2 itu ditaruh disitu.

Ternyata botol2 itu
disediakan untuk anjing kencing atau buang air besar.

Orang Jepang sangat
senang memelihara anjing dan mengajaknya jalan2. Tentu saja si anjing tidak
bisa diatur kapan harus kencing dan buang air besar. Para anjing dengan
tenangnya kencing di pinggir jalan. Disinilah peran air di botol aqua itu..
yaitu untuk menyiram kencing si anjing. Kalau buang air besar, si pemilik
anjing akan mengambil kotorannya (dengan tissu khusus), memasukkan ke dalam
plastik, dan menyiram bekasnya dengan air dari botol aqua tersebut. Simpatik
banget, semua orang merasa perlu menjaga kebersihan dan lingkunganpun jadi
apik. It was my second lesson here
in Japan.

Pelajaran terakhir
adalah tentang feeling homesick. Masih terbayang tukang bakso lewat depan rumah, tukang sayur yang
selalu cerita tentang anaknya yang masih sekolah, batagor riri dengan kecap
andalannya, hiruk pikuk di jalan, bau asap knalpot, orang-orang berjalan kaki dengan
santai, siaran tv lokal bahasa Indonesia, bau sampah, dongeng
infotainment, cerita korupsi, cerita lapindo, koran lokal, dsb, dsb…

Pelajaran homesick inilah yang sampai sekarang masih belum
saya temukan jawabannya.

CN 235

November 2nd, 2006 by nikenlaras

Happy Idul Fitri guys!! Maaf lahir batin ya… J

Pada lebaran dimana nih kemarin??

Kalau saya seperti biasa, mudik ke Jogja and Madiun, ke rumah eyang dan simbah.

Semenjak tinggal di Bandung tahun 1983, setiap tahun saya sekeluarga selalu mudik ke dua kota tersebut.  Kami selalu memakai kendaraan pribadi karena selain biayanya lebih murah, di tempat tujuan akan bisa lebih ‘mobile’. Kami bisa jalan-jalan kemana aja tanpa mengganggu aktifitas keluarga lainnya.

Hanya saja dua tahun terakhir ini saya ‘terpaksa’ pergi mudik menggunakan pesawat, maklum bawa anak kecil jadi agak males lama-lama di jalan. Kemarin naik Merpati Airlines, jenis pesawatnya CN-235. Sebenernya saya paling takut naik pesawat jenis ini.

Saya punya pengalaman buruk ketika eyang kakung meninggal beberapa tahun yang lalu. Ketika itu pada H+3 meninggalnya eyang, kami sekeluarga (minus adik laki-laki saya) pulang naik Merpati CN 235 jurusan Jogja-Bandung. Ternyata cuacanya buruk sekali, serasa naik roller coaster. Pesawat kecil itu terombang-ambing nggak keruan di tengah kilatan-kilatan petir. Saya waktu itu terus menangis sambil memeluk mama yang duduk di sebelah saya. Di beberapa tempat duduk banyak juga ibu-ibu yang nangis, sambil terus mulutnya komat-kamit berdo’a. Jantung saya rasanya udah pindah ke perut, kepala pusiiing sekali, kaki dan tangan lemas karena energinya habis terkuras menahan laju pesawat yang menabrak-nabrak awan hujan. It was a nightmare for me.

Akhirnya setelah sekitar 30 menit berada didalam cuaca buruk, pilot pesawat kami memutuskan untuk mendarat di Jakarta, bukan di Bandung seperti tujuan awal. Seluruh penumpang diberi pilihan, mau ikut flight Merpati Jkt-Bdg satu jam setelah kami mendarat, atau mau naik KA Parahyangan dari Gambir. Seluruh penumpang waktu itu memilih naik KA (iya lah..siapa yang mau naik roller coaster lagi). Akhirnya kami semua diangkut dengan bis Merpati ke Stasiun Gambir dan diberi tiket kelas eksekutif untuk keberangkatan pada jam terdekat.

Setelah kejadian itu, setiap akan booking tiket pesawat saya selalu menanyakan jenis pesawatnya. Kalau CN 235, saya akan mencari armada lainnya. Alhamdulillah selama beberapa tahun saya tidak harus berhadapan dengan jenis pesawat ini. Sampai akhirnya saya melahirkan Naufal dan harus pulang mudik dari Bdg ke Jogja.

Tidak ada jenis pesawat lain yang melayani rute ini, semuanya CN 235. Merpati, Kalstar, dan Deraya semuanya menggunakan CN 235. Mungkin karena bandara Bandung yang kecil atau mungkin karena permintaannya yang sedikit.

Well, akhirnya dua tahun yang lalu dan tahun ini saya harus berhadapan dengan trauma itu. Setiap akan take-off saya selalu berdoa semoga tidak menghadapi kejadian buruk itu lagi. Alhamdulillah dua kali mudik ini penerbangan CN 235 saya lancar.

Saya menghabiskan waktu sekitar 7 hari di Jogja dan Madiun. Lebaran hari kedua saya dan Naufal terbang lagi ke Bandung untuk mengunjungi keluarga suami dan menghabiskan waktu disana sampai keluarga saya pulang kembali ke Bandung.

Untungnya penerbangan itu lancar sehingga trauma saya sedikit demi sedikit hilang.

Itu baru CN 235. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus menghadapi cuaca buruk ketika naik pesawat perintis. Hwwaaaa….it’s gonna be the worst nightmare ever!!

It’s Naturally Attractive

October 11th, 2006 by nikenlaras

Satu pekan ini saya sedang giat-giatnya membereskan kamar yang sebelumnya lebih mirip kapal pecah dibandingkan dengan ruang istirahat. Buku-buku, kertas, DVD, notes dari dosen, menumpuk dimana-mana. Belum lagi kabel extension telepon untuk internet yang tidak tertata rapih. Satu kata “messy” kayaknya belum cukup bisa menggambarkan suasana ‘riweuh’ di kamar saya. Akhirnya, setelah melewati sidang ujian minggu yang lalu (yes, i finally did itJ), saya bertekad mengembalikan kamar ini ke fungsi semula, yaitu: menjadikannya sebagai ruang istirahat yang lebih manusiawi.

Aksi pemberesan kamar saya lakukan siang hari menjelang sore, pas Naufal tidur siang. Untuk hari ini, saya membereskan lemari yang salah satu lacinya berisi unorganized photos. Kebanyakan foto itu adalah kegiatan saya waktu masih bekerja di Urdi dan Moores Rowland. Saya memang belum sempat menyusunnya menjadi sebuah album yang cantik, berhubung belum ada waktu.

Satu foto yang menarik diambil waktu saya piknik ke Gunung Bromo. Waktu itu rute yang kami (saya + tim) ambil bukan lewat Malang, tapi lewat Pasuruan. Rutenya lebih jauh daripada kalau kita lewat Malang, tapi ngga nyesel kalau kita menikmati pemandangan di sepanjang rute itu. Lewat Pasuruan, kita akan melintasi daerah (kalau nggak salah namanya) Warung Dowo atau Wono..something, saya agak lupa. Jalannya terjal, mirip off-road racing, tapi pemandangannya indah banget. Kalau pernah nonton film the Sounds of Music, ya seperti itulah suasananya. Bukit-bukit hijau kecil, ditanami bunga dan buah-buahan ada dimana-mana. Gubug petani yang dibangun sederhana biasanya ada di tengah-tengah bukit. Kata supir yang mengantar kami, gubug itu hanya dipakai untuk istirahat, sedangkan sehari-harinya para petani hidup di bawah (istilah untuk dataran yang lebih rendah). Waktu itu sekitar bulan Maret, matahari masih sering muncul. Banyak sekali bunga yang mekar. Dari kejauhan terlihat bukit warna merah, hijau, kuning, tergantung jenis bunga atau buah yang tumbuh di atasnya. Indah banget. Itu adalah kali ketiga saya ke Bromo, tapi kali pertama saya benar-benar menikmati keindahannya. Buat saya, puncak Bromo atau keindahan gurun pasir bukan yang terbaik, tapi bukit-bukit kecil di desa itulah yang lebih menarik. It’s naturally attractive.

Foto lainnya diambil di salah satu pantai (yang tidak bernama) di Trenggalek, satu kota yang kalau tidak salah letaknya antara Pacitan dan Madiun. Trenggalek sebenernya mirip Balikpapan. Daerahnya berbukit-bukit, tapi punya pantai karena letaknya di pinggir pulau. Pantai Trenggalek merupakan bagian dari pantai selatan. Ombaknya besar, jadi kita tidak boleh berenang bahkan berjalan-jalan di bibir pantai. Pemandangannya jangan ditanya, indah banget. Lembah satu dengan lembah lainnya letaknya berdekatan. Setelah lembah, ada bukit yang menjorok ke laut. Kalau dilihat dari jauh, seperti bukit yang menabrak laut. Bagus banget. Again, it’s naturally attractive.

Saya bersyukur masih bisa menikmati tempat-tempat wisata itu. Katanya, tempat-tempat itu sengaja tidak dipublikasikan agar tetap terjaga keasliannya. Setelah membereskan foto-foto itu, saya turun dan membaca koran PR. Headlinenya masih tetap seperti kemarin, tentang kebakaran hutan yang makin meluas. Sedih ketika saya membayangkan anak sekolah harus memakai masker, kapal-kapal dagang tidak bisa berlayar karena laut tertutup asap tebal, pesawat delay berjam-jam karena jarak pandang tertutup asap, belum lagi penyakit ISPA yang diderita bayi-bayi mungil. Kenapa orang-orang disana tidak berhenti membakar hutan? Kenapa ijin HPH masih bisa dikeluarkan di wilayah yang sudah jelas hutannya sudah gundul? Kapan penduduk disana bisa bebas menghirup udara bersih seperti di desa dekat Gunung Bromo atau di pantai Trenggalek?

Sebelumnya, pasti hutan-hutan itu sangat menarik. Bayangkan saja, hutan tropis beribu-ribu hektar dengan beragam tanaman dan satwa yang hidup didalamnya. Segar, tenang, dan sehat. Lalu orang-orang serakah datang. Orang-orang yang menggunduli hutan, yang melakukan penebangan liar, bahkan yang memberikan ijin, pastilah sangat serakah, picik, dan tidak sensitif dengan nasib orang lain. Karakter mereka mungkin mirip Charles Montgomery Burns, salah satu tokoh di serial The Simpsons, yang digambarkan sangat tergila-gila dengan uang hingga menghalalkan segala cara. Lewat pabrik nuklirnya di Springfield, si Burns punya power luar biasa untuk mengeksploitasi pekerjanya dan merusak lingkungan di kota itu. Biasanya si Burns akan terbentur kesulitan sendiri hingga tujuannya untuk memperoleh keuntungan selalu gagal. Mudah-mudahan oknum-oknum yang bertanggung jawab terhadap adanya asap tebal itu juga mengalami nasib yang sama dengan si Burns.