Tempe
January 26th, 2008 by nikenlarasBanyak headline koran bilang bahwa negara kita di ambang krisis pangan. Beras, terigu, telur, minyak tanah; perlahan tapi pasti, semua naik harga. Juga kedelai dan tempe.
Pak Kumis, tukang sayur di kompleks saya complaint, “Susah Bu nyari tempe, barangnya ngga ada. Beli ayam aja Bu, ini pejantan tinggal satu, atau ini.. ada udang seger-seger” Seolah ayam adalah substitusi tempe, akhirnya saya pun setuju untuk membeli ayam pejantan itu sambil berpesan: “Pak Kumis, kalau ada tempe bungkus yang bentuknya segitiga gendut2, saya mau pesan 20 biji ya.” “Iya Bu, pokoknya kalo di pasar ada, nanti saya ambil buat Ibu.”
Besok paginya di kantor…. Teman-teman komentar soal nasi uduk langganan mereka yang sekarang sudah tidak dilengkapi dengan sambal goreng tempe. “Wah rasanya beda kalo ngga ada tempenya.” “Iya, kurang rasa pedes-legitnya.” kata teman saya yang lain.
Siang harinya, saya makan nasi timbel. Biasanya di tiap porsi ada tempe goreng yang ukurannya cukup besar, selain lauk utama berupa ikan/ ayam. Tapi siang itu cuma ada tempe ukuran mini yang ada di piring timbel. “Lha, kok tempenya kecil banget, Bu?” “Iya, barangnya lagi susah. Maap aja ya Mbak..”
Di rumah saya, tempe bukan makanan utama, tapi dia sering ada. Dia adalah pelengkap dari menu utama. Misalnya, menu utama adalah sayur lodeh+ikan asin, maka tambahannya adalah tempe goreng+sambal terasi. Jika menu utamanya cap cay +ayam balado, maka tambahannya adalah sambal goreng tempe+krupuk udang. Jika sore-sore ngga ada cemilan, ya gampang..tinggal bikin tempe mendoan+sambal kecap. Jadi, tempe di rumah saya memang bukan menu utama. Tapi dia selalu ada. Alhasil ketika tempe menjadi langka, saya harus cari referensi lauk lain yang se-fleksibel tempe: ya fleksibel masaknya, fleksibel tempatnya (dimana-mana tersedia), dan fleksibel harganya. Ya… tapi mana ada bahan makanan yang begitu fleksibel selain tempe itu sendiri? Karena tempe sudah menjadi “budaya”, ketika dia tidak ada, semua orang di rumah-pun akan merasa “ada yang kurang”. Wajar dong, saya (dan berjuta-juta ibu lainnya) yang bertindak sebagai PIC (Person In Charge) dalam pengelolaan menu keluarga, protes dan bingung ketika tempe “hilang” atau “langka”
Alhamdulillahnya, saya masih hidup di pulau Jawa. Alhamdulillahnya lagi.. masih sanggup membeli lauk lain untuk melengkapi komposisi protein dalam menu keluarga.
Sepupu saya yang tinggal di Gorontalo bilang, ketika krisis kedelai melanda akhir2 ini, dia+keluarga belum pernah makan tempe lagi. Di Gorontalo, tempe bukan hanya langka, tapi “hilang”. Pengumpul botol air mineral yang biasa mangkal di jembatan busway dekat kantor saya juga bilang, bahwa anaknya sekarang hanya makan pakai garam dan krupuk. Karena telur sudah mahal, dan tempe sudah tidak terbeli.
Ya, saat inilah saya bisa menilai bahwa tempe bukan hanya pelengkap nasi. Dengan fleksibilitasnya, tempe sudah menjadi bagian dari budaya kita. Mudah-mudahan krisis ini tidak lama. Mudah-mudahan juga Pak Kumis tidak lupa sama janjinya untuk mencarikan tempe bungkus segitiga yang gendut2 buat keluarga saya.



